Kamis, 07 Januari 2016

Tere Liye


“Lepaskanlah. Maka esok lusa, jika dia adalah cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara mengagumkan. Ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita. Jika dia tidak kembali, maka sederhana jadinya, itu bukan cinta sejatimu."
*Novel "RINDU", Tere Liye

Anak kecil

dulu 'anak kecil' slalu memilih-milih dalam berkawan. persaudaraan tersekat menjadi beberapa bagian, dengan begitu banyak perbedaan. Lalu, saat besar.. sulit d satukan.

Catatan Pertama 2016


1 januari 2016 00:03

"Tak ingin, tak perlu memandang langit.
Tak perlu berebut tempat untuk melihat api yang terbang d atas langit.
Untuk menatap kebahagian d hati, aku tak perlu menunggu masa untuk melihat keindahan d langit.
Sebab aku lebih dulu memiliki keindahan itu.
Lebih dari sekedar api yang mereka terbangkan,
Lebih dari sekedar melihat bintang-bintang di langit,
Lebih dari apa yang mereka bahagiakan malam ini..
Dan kamulah keindahan itu."

Dari jauh, di ujung sana.. Terlukiskan rasa, di satu detik yang berbeda, tepat 00:04, tumpah rindu dalam puisinya..

"tahun telah berganti, langit berhias percikan api, seolah malamku tidak lagi sepi tidak lagi aku sendiri namun rindu tetap menggebu memisahkan aku dengan sekitarku ditengah keramain ini, aku merasa sendiri ditengah pesta ini, aku merasa sepi seindah apapun langit malam ini, belum mampu melebihi keindahan katamu. sepuitis apapun letusan kembang api, tidak sepuitis namamu. zulaiha. bagaimana pergantian tahunmu? seresah inikah engkau? ataukah ini hanya terjadi padaku?"

Iya, Tiada Makna Selain Rindu..

Rasa Yang Lebih Dewasa~

Bustana : "Adakalanya mendung diperlukan, agar kita sadar betapa nikmat hangat siang bersama sang surya. Ada kalanya siang diperlukan, agar kita sadar betapa indah kala senja menjelang. Mungkikah seindah sekaranh, jika kemarin kita tak terpisahkan waktu?. Adakah nikmat perjumpaan akan kita rasakan, jika rindu tak menyesakkan?"

Zulaiha : " sedang rindu itu sendiri adalah ni'mat. aku bahagia merindumu meski harus terus berdegup lebih kencang jantungku, meski harus terus terisak-isak dalam diamku. Meski harus terus merasa rindu, Bustana. engkaupun telah sangat indah dalam rinduku."

Bustana : " Engkau benar, zulaiha. Rindu itu memang nikmat. Merinduimu adalah hadiah terindah yg pernah ku dapat. Tapi aku pun takut, aku terlalu pengecut, zulaiha. Aku takut bukan kepada lelah karena rindu. Aku takut atas nikmat rindu, yg akan terus menjelma menjadi rasa yg lebih dewasa. Dan aku takut tak bisa menahannya."

Zulaiha : "Darisanalah Tuhan menyisihkan rasa yang murni. Sebab hanya datang karena rindu. Bukan mata yang lama bertatap malu. Bukan pula pelukan yang akan berlalu." 

...............

08:40

Aku mengagumimu dalam seribu bahasa, sampai tak kuasa.

4 jan 22:18

Aku menggenggam rinduku dalam diam, Aku merekam desah suaramu dalam diam.

Ini nih!

yang penting itu dirimu sendiri, percuma kalau sodara2mu orang hebat, tapi kamu ngga bisa apa2.